Jumat, 25 Juni 2010

“ISRAEL KEPALA BATU = “AMERIKA” TIDAK SEGARANG YANG KUKIRA.??”

Nampaknya setelah Israel melakukan penyerangan yang memalukan dengan menggunakan armada militer lengkap terhadap kapal bantuan kemanusiaan yang bahkan tidak memilki senjata, tampaknya reaksi dunia Internasional semakin “berani” mengecam Israel. Bahkan Armada Kapal tambahan akan diberangkatkan kembali. Ini merupakan gerakan yang memang seharusnya dilakukan oleh dunia Internasional. Setelah mempertanyakan apa peran dunia Internasional, sebenarnya logika yang terjadi bahwa pengiriman relawan dunia Internasional dengan kapal –kapal laut, sebagai upaya menembus dari daerah yang lebih luas dan agak longgar (selain darat yang sudah dikepung) yaitu bentuk nyata dari warga dunia yang peduli terhadap bangsa palestina. Adanya mereka dan ditangkapnya mereka adalah bentuk nyata bahwa dunia masih peduli dengan warga palestina. Namun dalam sebuah surat kabar baru – baru ini, ada sebuah pernyataan yang mengatakan bahwa “siapapun yang berharap akan datangnya perdamaiaan atau setidaknya kesetabilan dan ketenangan di Timur Tengah terutama antara Israel dan Palestina, tidak ubahnya menunggu Godot yang tidak pernah datang dalam lakon karya Samuel Beckett yang terkenal itu. Dan kitapun mungkin akan sepakat dengan pernyataan itu jika tidak ada usaha dari dunia internasional terutama bagi Negara – Negara yang berkompeten dalam hal ini, jika terus berdiam dan tunduk pada hegemony Negara – Negara tertentu, maka jangan berharap mimpi tentang rumah dan kampung serta negara yang aman bagi rakyat dan bocah – bocah Palestina tidak akan pernah terwujud.
Bergolaknya peristiwa Mavi Marmara, sampai kepada kecaman dunia internasional ternyata tidak membuat Israel jerah, namun yang terjadi malah sebaliknya, mereka makin provokatif. Contoh, setelah insiden tersebut dan mereka mendapatkan resolusi dari PBB yang kemudian ada usulan dari dunia internasional untuk menyelidiki kasus tersebut, mereka malah dengan tegas menolak investigasi penyelidikan internasional dan memilih untuk menyelidiki sendiri insiden tersebut yang sudah pasti akan tertebak bahwa hasilnya akan jauh dari nilai – nilai objektifitas dalam pandangan dunia internasional. Kemudian yang lebih parahnya lagi mereka justru menegaskan bahwa mereka akan memperketat blokade atas Gaza yang sejak 2007 lalu telah mengakibatkan 80% dari total 1,5 juta warga gaza menderita lahir batin hingga saat ini.
Berdasarkan aksi – aksi Israel yang sangat tidak manusiawi tersebut dapat kita bayangkan bahwa hari – hari depan Gaza dan Palestina akan semakin bergolak seiring dengan sikap kepala batu Israel dan Oportunisme Masyarakat Dunia Internasional serta Negara – Negara yang berkompeten dalam hal ini, yang perhatiannya dapat kita lihat yaitu kian hari, kian meninggalakan dan melupakan persoalan ini. Ada yang berpendapat bahwa Konflik Israel dan Palestina hanya akan selesai jika Amerika sebagai Negara Adidaya memiliki kemauan untuk bertindak dan menyelesaikan persoalan ini dengan tegas, karena bukan rahasia lagi bahwa Amerika memiliki hegemony dan kekuatan yang sangat besar dalam menentukan kebijakan – kebijakan dunia Internasional termasuk PBB. Dan saat inilah kita berharap pada Obama untuk bijaksana dan konsisten dengan apa yang pernah diakatakan dalam pidatonya di Kairo dulu, yaitu menginginkan sebuah tatanan dunia baru yang ramah, toleran, dan egaliter sekaligus membuktikan bahwa tidak ada hegemony yang menggerakkan kebijakan politik dan ekonomi pemerintahannya selain dirinya. Sadarkah dan Mampukah dia..???

PELACURAN INTELEKTUAL

Bukankah melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan realitas dan keinginan hati nurani adalah sebuah bentuk pelacuran.??
Mengenai judul ini, saya tertarik dengan tulisan Gie yang diterbitkan di Sinar Harapan 21 April 1969 lalu. Dan jika dikaitkan dengan keadaan objektif hari ini, tidak sedikit saya menjumpai sahabat – sahabat dan teman – teman saya yang tidak ubahnya seperti apa yang dimaksud "Gie" dalam tulisannya tersebut, yaitu Pelacuran Intelektual.
Kebanyakan diatara mereka melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan hati nurani dan pola pikir mereka. Mereka selalu berbicara dan menjelaskan persoalan – persoalan yang melanggar peraturan dan hukum – hukum yang berlaku namun tanpa mereka sadari, ternyata mereka adalah bagian dari sistem yang kompromis dan sama sekali tidak bertindak terhadap penyelewengan – penyelewengan yang terjadi disekitar mereka. Namun saya tidak sedikitpun mengurangi rasa hormat saya pada mereka, karena saya sadar bahwa mereka sedang berada dalam situasi yang sulit dan sedang berusaha untuk mencapai hasil – hasil yang maksimal dalam kerja – kerjanya, dan aku percaya bahwa memberikan penilaiaan terhadap situasi seseorang bukanlah hal yang sederhana dan mudah untuk dilakukan.
Berbicara soal perilaku, kita tidak akan terlepas dari sistem – sistem moral yang berlaku didalam masyarakat. Dalam sistem moral masyarakat kita, saya mengenal dua sistem nilai, yaitu sistem nilai absolut dan sistem nilai relatif.
Dalam masyarakat, mereka yang menggunakan sistem penilaiaan absolut, dalam tindakannya selalu didasarkan pada pertanyaan benar atau salah, dalam artian jika salah tidandakan itu tidak boleh dilakukan, begitupun sebaliknya jika benar, tindakan itu sah – sah saja untuk dilakukan. Sedangkan sistem nilai relatif, adalah sistem penilaiaan yang para penggunanya sangat sadar akan kebenaran dan kesalahan secara teoritis namun dalam setiap pengambilan keputusannya selalu didasarkan oleh pertimbangan yang realistis.
Pada dasarnya sistem nilai dan penilaiaan ini berlawanan, namun keduanya sama – sama memiliki batasan – batasan yang sangat kabur, dalam artian tidak memiliki batasan – batasan yang jelas dalam penerapannya, namun ada satu hal yang harus diperhatikan yaitu, walaupun batasan – batasannya tidak jelas dasarnya, setiap tindakan ini biasanya memiliki motif – motif yang berdiri dibelakangnya dan akhirnya penilaiaan terakhir diputuskan sepenuhnya oleh kata hati sendiri.
Oleh karena itu saya sepakat dengan apa yang dikatakan Gie dalam tulisannya, yaitu “Kita hanya bisa berkata bahwa setiap situasi dan jabatan harus dinilai secara profesional, dalam artian seorang tokoh agama, misalnya pastor, hendaknya dia harus lebih banyak menggunakan sistem nilai absolut walupun tidak mutlak – mutlakan, dan seorang perwira lapangan, hendaknya harus lebih banyak mempertimbangkan nilai – nilai relatif, karena bisa kita bayangkan, apa jadinya sebuah operasi militer jika komandannya bertindak sebagai Pendeta yang maha adil”,..hehehehee....
Namun dalam penerapannya nilai – nilai relatif hendaknya lebih menerapkan ketegasan batasan – batasannya dan jika pada suatu titik batasan – batasa itu dilanggar ia harus berani bertindak lain dan berani keluar dari persoalan itu. Sebab jika tidak dan terlalu fleksibel ia akan tergeret oleh arus.
Itulah sebabnya kenapa sangat sulit bagi saya untuk menilai sikap seseorang, dan terkait dengan judul diatas bagi saya orang – orang yang menggunakan sistem nilai relatif kemudian tidak punya batasan – batasan yang jelas berdasarkan motif yang menjadi baigroud dalam setiap tidandakannya, dia tidak akan pernah bisa konsekwen dan tetap akan seperti pelacur yang tunduk pada telunjuk sang germo.
Buat sahabat – sahabatku dan teman – temanku yang merasa berada dalam situasi sesulit ini, saya mohon maaf, karena saya sudah menetapkan dan memberikan penilaiaan yang tidak berhati – hati dalam pandangan banyak orang, tentang kalian yang oportunis dan plin – plan serta lihai menggunakan alasan – alasan untuk merasionalkan tidandakan – tindakan pengecut kalian.

Rabu, 16 Juni 2010

"GARUDA MALU DIDADAKU"

“Betapah tidak menariknya pemerintahan sekaran”, ungkapa itu pernah hadir dan menghiasi media cetak ternama di negeri ini sekitar 30-an tahun yang lalu. Yaa… “Soe Hok Gie” dialah orang yang mengatakan itu, dan sampai saat ini, bagi saya ungkapan itu relevan hingga saat ini.
Bangsa yang mengaku ramah ini bagi saya sama sekali tidak menampakkan keramahannya pada rakyatnya sendiri, jika dibanding dengan keramahan yang ditunjukkan pada dunia luar.
Dan ironisnya, pancasilah bukan lagi menjadi idiologi yang di genjot untuk diterapkan, namun malah sebaliknya, bagi para petinggi dan kaum intelektual negeri ini, tampaknya lebih senang bersilat lidah dan memperdebatkannya.
Jika berbicara persoalan – persoalan bangasa ini, mungkin akan sangat abstrak bagi sang penguasa, jika ada yang mengatakan bahwa diseluruh kota dan dibawah kibaran sang “Dwi Warna” telah terjadi antrian panjang kemiskinan dan berbagai macam ketimpangan yang sang garuda pun sepertinya sudah bosan, malu dan acuh tak acuh melihatnya, dia buang muka, dan hanya menyaksikannya dengan satu mata dan seakan berkata “Hey…Lima sila didadaku ini, Bukan Hiasan dan Miniatur permainan anak-anak, apa kalian tidak malu memajangku didada kalian, tanpa tau apa sebenarnya aku,.? “aku loh,..malu berada didada kalian.!!!”.
Balik lagi, sesuatu yang sangat abstrak bagi sang penguasa tadi, bagi saya, semua itu terlihat jelas, dan hal ini membawa saya pada sebuah ketidak tahuan dan terus bertanya – tanya “apa sebenarnya yang di inginkan para petinggi negeri ini, dan apa yang menguntungkan bagi mereka, jika tetap menutup diri tentang kemiskinan, pengangguran dan kesewenang – wenangan yang mereka perlihatkan dengan berteriak melalui ceramah dan pidato – pidato yang seloganistik dan seakan – akan mengabarkan bahwa bangasa ini sedang dalam keadaan baik – baik saja, dan kaum mudanyapun rileks – rileks saja dan bahkan apatis terhadap kondisi objektif bangsa dan mayoritas rakyatnya dewasa ini.?!
Belum lama ini dalam sebuah surat kabar, saya membaca sebuah berita tentang ratusan ribu pengangguran yang diciptakan oleh Negara melalui lembaga – lembaga pendidikan baik swasta maupun negeri di setiap tahunnya.
Persoalan pertama yang menjadi penyembabnya yaitu kurangnya lapangan pekerjaan, yang kedua, buruknya kualitas mahasiswa, yang jelas ini membuktikan buruknya kualitas pendidikan dan lembaga – lebaga pendidikan, yang pada dasarnya harus mampu menciptakan generasi – genarasi baru yang mampu memahami dan menjawab persoalan – persoalan bangasa dewasa ini. Dan yang ketiga yaitu, buruknya perilaku pelaksana sistem pemerintahan yang kerap melakukan praktek – praktek KKN, yang kemudian melahirkan terkikisnya dan hilangnya kepercayaan masyarakat pada pejabat dan petinggi negeri ini diberbagai instansi.
Selain itu ditengah kondisi dan persoalan – persoalan yang begitu kompleks, yang sedang dihadapi oleh bangsa ini, para politisinya malah asyik bersilat lidah dan memperdebatkan persoalan – persoalan yang tidak pokok, kemudian melupakan penderitaan simiskin, sementara dengan sombongnya mereka memeta – metakan NKRI dengan parpol – parpol mereka yang sarat akan kepentingan peribadi dan golongan semata. (“Aku Muak dengan Semua Ini”).
Dan yang lebih menyedihkan lagi adalah, para kaum itelektualnya, yang masih betengger di Menara Gading, Mereka,..Bukannya berusaha untuk menciptakan pendidikan yang demokratis, ilmiah dan mengabdi pada kepentingan mayoritas rakyat, namun sebaliknya atau entah mengapa, mereka malah bagaikan anak bayi yang tidak tau apa – apa, (mungkin saya akan percaya dengan ungkapan salah seorang dosen, yang mengatakan bahwa sekian persen mahasiswa yang masuk ke perguruan tinggi disetiap tahunnya, belum layak duduk sebagai mahsiswa). Dalam pandangan saya, kebanyakan diantara mereka senang – senang saja dan sangat happy malah, dengan timang – timang disertai lantunan lagu “Nina Bobo” oleh Rezim yang pada kenyataannya hanya berusaha untuk menciptakan Generasi – generasi yang siap kerja dan rela di Upah rendah tanpa menginginkan mereka lahir menjadi manusia - manusia kritis dan mencintai kebebasan ilmiah mereka (Terperangkap dalam penjara Terselubung). (Saya menggambarkan keadaan ini, sama halnya dengan Pesan moral yang dapat saya tangkap dari film “3-Idiot” produksi Hollywood beberapa waktu silam).
Belum lagi karakter mahasiswa yang akhir – akhir ini, terkesan sangat antagonis dan terlihat seperti orang tak bependidikan, yang akhir – akhir ini ramai mewarnai layar kaca kita. Bentrok dan tauran diatara mereka sendiri, kerap terjadi bahkan sesama almamaternya sendiri (sekampus).
Yang lucunya lagi adalah, mereka yang berani memprotes ketidak adilan, menggelar poster dijalanan dan siap berpanas – panasan serta menggelar diskusi dimana – mana, guna mencari penjelasan, mencoba memahami dan mencari solusi terhadap persoalan – persoalan bangsa dewasa ini, mereka semua dianggap sok tau, tidak intelek dan menyesatkan. Siapa yang sebenarnya keliru dalam hal ini, “Begitu besarkah hegemony dan propaganda Rezim selama ini, sehingga dengan mudahnya mampu menggerakkan mind set Generasinya untuk tunduk dan menerima segala persoalan dengan apa adanya, dan sesuai dengan rel yang telah mereka buat walupun pada dasarnya rel tersebut sedang menuju kubangan yang sangat berbahaya. Ataukah malah sebaliknya, “Segitu lemah dan Bodohkah Generasi Baru ini.???”.
Berbicara pemerinthan dan rezim hari ini, maka kita tidak akan lepas dari seluruh aspek pembentuknya, dan hari ini pemuda mahasiswa adalah salah satu tonggak kebangkitan yang seharusnya mampu melakukan perubahan yang fundamental dengan melihat kenyataan objektif bangsa dewasa ini. Dan perntanyaannya Mampukah Mereka.?
Saya jadi teringat kata – kata seorang tokoh yang tidak pernah tua dalam imajinasi saya, dan pemikiran – pemikirannya sangat realistis serta relefan hingga saat ini. Dia adalah “Soe Hok Gie”. Dia pernah bilang bahwa, “Hanya Mereka yang berani menuntut haknya yang pantas mendapatkan dan diberikan keadilan. Dan kalau mahasiswa – mahasiswa Indonesia tidak berani menuntut hak – haknya biarlah mereka ditindas sampai akhir zaman oleh sementara dosen – dosen dan pejabat – pejabat pemerintahan mereka yang korup”.

Kamis, 03 Juni 2010

COVER INDAH SEBUAH DONGENG TENTANG NUSANTARA

Beberapa minggu yang lalu di Bulan Mei, baru saja kita memperingati hari kebangkitan Nasional dan mengawali bulan juni ini dengan mengingatkan kita pada peristiwa yang terjadi 64 tahun yang lalu yaitu Bergemuruhnya pidato sang proklamator yang menyuarakan idiologi dan mempertegas karakter dan wakta bangsa ini kepanggung dunia.
Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau prikemanusiaan, Mufakat atau Demokrasi, Kesejahteraan social dan Ketuhanan yang berbudaya atau Ketuhanan Yang Maha Esa. Itulah isi pidato Bung Karno pada 1 juni 1945 yang akhirnya sempurna menjadi Pancasila yang akhir - akhir ini hanya kerap menjadi poin – poin indah yang tersusun rapi kemudian terbingkai indah dan terpajang didinding – dinding rumah, kantor – kantor pemerintahan yang kerap melakukan kecurangan dan diruangan – ruangan kelas para kaum – kaum terdidik yang terkadang tidak terpelajar hingga kerap menjadi ikon pencitraan para politisi dan mahasiswa sok tau yang gemar bersilat lidah tentangnya.
Meresapi nilai – nilai pancasila dan mencoba membayangkan apa yang akan terjadi jika itu diaplikasikan maka aku pikir, perspektif kita akan sama, yaitu “Bangasa ini akan terhidar dari konflik-konflik kesukuan, pemberontakan – pemberontakan kedaerahan dan anarkisme yang akhir – akhir ini setia mewarnai layar kaca kita, yaitu berbagai macam kerusuhan baik itu masyarakat, pihak keamanan, bahkan mahasiswa sebagai kaum terpelajar, seakan – akan kelihatan gemar memainkan peran antagonis itu dilayar kaca dan maaf saja, dalam penilaiaan sepintas mereka – mereka tidak terlihat sebagai manusia – manusia yang waras.
Lunturnya nilai – nilai Pancasila diperparah lagi dengan perilaku para politisi – politisi Parpol yang tidak beradab. Mereka gemar bersilat lidah dan berdebat mengenai hal – hal yang tidak pokok dan yang lebih parah lagi yaitu dengan bangganya dan seakan – akan benar sendiri mereka saling mengklaim dan memeta – metakan NKRI dengan primordialisme sempit yang pada akhirnya menimbulkan fanatisme yang berlibihan sehingga suasana masyarakat yang memang sudah susah dan serba kekurangan makin mudah dihasut dan jangan heran kalau konflik mudah terjadi.
Sejak 1998, setelah hanya diwariskan dengan persoalan – persoalan besar dari orde – orde sebelumnya, kita memasuki periode baru yaitu reformasi, namun apakah reformasi mampu menjawab persoalan – persoalan rakyat hari ini.? “Sampai hari ini saya berani menjawab semua itu tidak terlihat”. Pelayanan public misalnya, “Alih – alih ada perbaikan mutu pelayanan public, dari waktu kewaktu masyarakat malah dihadapkan pada berbagai permasalahan – permasalahan pelyanan public yang banyak merugikan mereka, mulai dari krisis listrik, air bersih, kesehatan dan masih banyak lagi. Semua persoalan itu terus mendera masyarakat tanpa bias ditanggulangi secara memuaskan oleh pemerintah kita hari ini.
Benang merah yang kemudian dapat saya tarik dari persoalan – persoalan yang melanda bangsa ini yaitu, dari orde – orde sebelumnya hingga reformasi saat ini, pancasila hanya ditempatkan sebagai actor pelengkap yang hanya dibutuhkan ketika integritas bangsa ini dipertanyakan, dalam artian hanya sebagai “Cover Indah Sebauh Dongeng Tentang Nusantara”. Dan reformasi yang pada dasarnya menghendaki perubahan – perubahan yang radikal dalam segala aspek kehidupan dalam bingkai NKRI seharusnya menempatkan nilai – nilai moral pancasila sebagai instrument utama yang tentunya tidak liberal dan kapitalistik serta pola – pola lain yang tidak berdasarkan pada nilai – nilai dasar pancasila sebagai Idiologi Negara.
Saat ini, boleh dikatakan bangsa ini sedang kehilangan jati diri dan watak yang jelasnya sebagai bangsa yang memiliki pancasila. Padalah untuk mencapai cita – cita besar bangsa ini kita butuh watak dan karakter yang jelas. Jika merujuk pada pengalaman Jepang, kita bias melihat bagaimana dia mampu menunjukkan dirinya sebagai peraih kesuksesan yang mengagumkan. Setelah ditumpas habis pada perang dunia II mereka berani bangkit dan menjadi Negara termaju didunia. Dan itu semua bukan tanpa sebab, melainkan mereka mampu karena dilandasi dengan prinsip – prinsip idiologi yang jelas dan menjunjung tinggi moral sebagai batu tapal keberhasilan. Dan yang paling mengumkan, mereka mampu menanamkan prinsip bangsanya dalam setiap benak warga negaranya. Bahkan beberap saat sebelum menulis catatan ini, saya sempat menyimak berita salah satu saluran televise bersama Pak Satpam yang terkagum – kagum dengan keputusan seorang Perdana Menteri Jepang yaitu Yukio Hotoyama yang memilih Mundur ketika tidak mampu memenuhi janji – janji kampanyenya kepada mayoritas rakyat Jepang yang mengantarkannya duduk sebagai Perdana Menteri.
“Hebat,…Ini dia Pemimpin yang Baik, jika Berani Berbuat harus Berani Tanggung Jawab” (Ujar Pak Satpam), Saya tidak tau secara spesifik apa penyebab kemunduran beliau tapi lebih kepada apa yang di ucapkan Pak Satpam, saya berpikir kapan budaya malu ini terlaksana di Indonesia yang para politisinya gemar mengumbar janji.
Untuk itu, Hari Pancasila yang jatuh pada 1 Juni 2010 ini, jangan hanya kita jadikan catatan sejarah yang tinggal romansa dan kenangan masa lalu saja tapi mari kita mencoba untuk mengembalikan dan membangun nilai – nilai Pancasila sejak dini, guna menciptakan generasi – generasi yang berwatak, memiliki moral yang baik dan tidak sekedar terbuai dengan manisnya Pelayanan zaman yang akhir-akhir ini serba mudah dan praktis.

Senin, 17 Mei 2010

"Siapa Saya.???"

Terkadang dalam sebuah renungan yang biasanya datang tanpa diduga dalam mindset imajinasi, Pertanyaan itu selalu menghampiriku. “Aku, selalu dihantui perntayaan yang datang dari diriku sendiri”. “Siapakah Saya.??”
Sebetulnya pertanyaan ini begitu remeh dan mungkin tidak memiliki beban sama sekali untuk menjawabnya, namun bagiku tidak, dan aku yakin, pertanyaan itu tidak akan mampu dijawab dengan sempurna oleh orang – orang oportunis, sombong dan hidup hanya mementingkan diri sendiri.!
Yang menentukan diri kita dalam menentukan pilihan – pilihan adalah diri kita sendiri, dan seorang manusia adalah seperti yang dia pikirkan, orang lain tidak dapat merubahnya. Dan akhirnya dialah yang berhak menjawab siapa dirinya, Itu yang dapat saya pahami setiap pertanyaan itu hadir.
Ditengah realitas social yang semakin tak bercahaya akhir – akhir ini, tidak sedikit orang yang membiarkan dirinya diperalat. Baik itu diperalat oleh individu diluar diri mereka maupun diperalat oleh sesuatu yang lahir dari dalam diri mereka sendiri, yaitu “NAFSU”
Di Indonesia, keadaan seperti ini tidak asing lagi dalam pandangan dan pengamatanku. Baik itu politisi, maupun kaum intelektual yang masih bermarkas dimenara gading yaitu “Kampus” (kata “Gie”). Bagi saya, tidak sedikit yang membiarkan dirinya diperalat dan memperalat dirinya sendiri. Mereka tidak punya idialisme, rasionalitas mereka sangat murah dan gampang terjual dan dibeli.!!!
Mereka dengan mudah merasionalisasikan keadaan hanya karena takut dengan dosen, guru maupun atasannya, walaupun pada dasarnya dia dalam posisi yang benar. Dan yang lebih menyedihkan lagi yaitu, “sifat kepengecutan itu dirasionalisasikannya sebagai bentuk kepatuhan”.
Dalam perjalanan bangsa ini, Ironis sekali keadaannya. Ditengah kondisi masyarakat yang serba kekurangan dan serba sulit, para politisi dan kaum – kaum intelektualnya bukan malah mencari jalan keluar bagi persoalan fundamental rakyat selama ini, mereka malah asyik dengan pertarungan idealisme masing – masing golongan, yang pada dasarnya tidak berlandaskan pada persoalan – persoalan rakyat hari ini. Penderitaan rakyat dieksploitasi, dan kemiskinan serta kelemahan lawan politik ternyata jadi ladang subur untuk tebar pesona, itulah wajah politisi kita hari ini. Bagi saya, sampai hari ini mereka tidak mengenal diri mereka sendiri.!!!
Bangsa ini, membutuhkan generasi – generasi yang mengetahui asal muasal dari mana dirinya dan yang lebih tepatnya “Siapa dirinya.??”, serta rasionalitasnya tidak mudah terjual dan harus memiliki idialisme yang kuat untuk kemakmuran rakyat mayoritas, bukan golongan atau individu sendiri.

“Kebenaran tidak datang dari intruksi siapapun, tapi harus dihayati dan lahir secara kreatif dari kita sendiri”.

Rasanya tidak adil kalau saya hanya mengkritisi dan menilai orang lain, tanpa orang lain tahu siapa sebenarnya saya, dari ucapan dan pengakuan saya sendiri.
Siapakah saya,.???
Saat ini, saya adalah seorang pelajar yang sedang belajar dalam kehidupan ini, dan mencoba untuk berkembang dan menilai segala sesuatu secara kritis dengan tetap mempertahankan independensi akademik saya, walaupun pengalaman dan pengetahuan saya terbatas, dan itu semua saya lakukan, karena saya adalah seorang pelajar. Dan Karena itu juga, saya lebih suka untuk bertindak terang – terangan atau terus terang, walaupun ada kemungkinan salah bertindak, yang jelas saya punya keyakinan dan itu lebih baik dari pada saya tidak bertindak sama sekali.

Dan Akhirnya, saya menemukan diri saya dalam tindakan.!!!

Rabu, 14 Oktober 2009

15 mei 1990

assalamualaikum,...

Nama aku "Saddam Hussein" semua orang sudah pasti pernah mendengar nama yang keramat ini.
Aku dilahirkan tepatnya pada tanggal 15 mei 1990, waktu itu perang tengah berkecamuk di Timur Tengah, karena kekagumannya tehadap pemimpin Perang saat itu, ayahku memberiku nama sama seperti pemimpin besar itu, yaitu "Saddam Hussein" yg matinya sungguh tidak manusiawi, karena nyawanya dicabut oleh manusia - manusia yang mendahului tugas malaikat maut.
Bagai selembar kertas putih, aku menginjakkan kaki dibumi yang penuh noda ini, semua iblis dan setanpun sudah siap-siap menyambut kedatanganku, bahkan mereka mungkin telah menyusun program untuk menggoda dan mengajakku jadi hambanya. Alhamdulillah, aku diliharikan detengah keluaraga muslim yang juga punya berbagai cara untuk menolak godaan - godaan mahkluk semacam iblis, setan atau apalah. Namun tidak semudah itu. Manusia itu mahkluk kemungkinan, bisa lebih baik dari malaikat namun bisa juga lebih buruk dari Iblis, itu kata ayahku, pertama kali ketika aku sudah sedikit mengerti arti kehidupan.
Ternyata nama ini sempat menimbulkan kontroversi antara ibu ku dan ayahku,..mereka berbeda pendapat untuk sebuah nama bagiku, andai aku sudah mengerti, aku mungkin bisa jadi penengah, namun sayang, pada saat itu bengongpun aku belum mampu. Entah bagaimana caranya, sampai saat ini aku belum tau, bagaimana ibu ku bisa menerima kekalahan terhadap sifat ngotot ayahku yg tetep ingin agar aku diberi nama Saddam Hussei. Entah itu dengan cara demokrasi (Sistem suara terbanyak), atau mungkin sifat diktator ayahku yang tetap pada pendiriannya tanpa mau membuka ruang demokrasi terhadap warga yg dia pimpin (Keluarga), sampai saat ini aku belum mengerti.